Tentang Kami

Kesungguhan Puspo Wardoyo menghayati bidang kuliner, membuat Wong Solo melegenda

Kesungguhan Puspo Wardoyo menghayati bidang kuliner, membuat Wong Solo melegenda, menjadi usaha yang bertahan lintas generasi bahkan terus berkembang pesat. Contoh usaha kuliner seperti Wong Solo hingga saat ini masih bisa dihitung dengan jari. Di bidang kuliner, terutama makanan ayam, nama Wong Solo Grup dengan sang pemilik Puspo Wardoyo adalah salah satu yang melegenda. Seperti apa rahasianya?.

Dunia wirausaha tanah air sedang naik daun. Pengusaha wajah baru bermunculan di bidangnya masing- masing. Namun usaha-usaha yang bertahan lintas generasi, yang bahkan terus berkembang pesat hingga saat ini hanyalah segelintir. Selalu menarik perhatian siapa pun, sebab mereka sudah terkenal dan melegenda di benak konsumennya..

Bisnis kuliner dengan menu ayam saat ini termasuk sektor usaha yang paling banyak pemainnya. Namun bagi lidah orang Indonesia sudah tak asing lagi (bahkan selalu kangen) dengan suguhan Ayam Bakar Wong Solo. Berawal dari Ayam Bakar Wong Solo kaki lima di jalan SMA 2 Padang Golf Polonia medan tahun 1991, kini 150 outlet Wong Solo Group menggurita ke pelosok tanah air.

Bukan hanya sukses di Indonesia, Wong Solo juga berhasil menjadi tuan rumah di negeri Jiran. Di Negara Malaysia sejumlah 5 outletnya tak pernah sepi didatangi pengunjung. Citarasanya sudah melegenda dari generasi ke generasi. Inovasi menu- menunya yang telah melewati uji coba berkali- kali tak pernah gagal saat dilempar ke pasaran.

Aneka menu dengan brand baru yang diluncurkan Wong Solo, di manapun selalui berhasil menyedot pengunjung. Yang pertama kali datang ke outletnya pasti merasa terkesan dengan suguhannya sehingga menjadi pelanggan yang loyal. Menurut sang pemilik, Puspo Wardoyo, hal ini karena citarasanya yang benar- benar beda dan khas disamping value yang bisa ditafsirkan sebagai gengsi Semua orang bangga jika makan di berbagai outlet Wong Solo Grup. Alhasil, bicara soal makanan ayam yang paling enak, pikiran orang langsung tertuju pada Ayam Bakar Wong Solo. Itulah kesuksesan yang berhasil dibangun lebih dari 20 tahun oleh Puspo Wardoyo.

Banyak orang bilang, Puspo adalah seorang jenius dalam kuliner ayam. Tak sedikit di antara mereka terinspirasi oleh keberhasilan Puspo dalam mengembangkan usaha kuliner ayam. Ia adalah tokoh dan pelopor kuliner bidang ayam. Tidak salah bila dikatakan Wong Solo seperti universitas nya para pengusaha ayam di Indonesia. Saat ini sudah banyak mantan karyawannya, mantan frencheisnya ataupun para pengikut usaha yang berhasil membuka bisnis kuliner ayam dimanapun mereka berada.

Menurutnya, menjadi pengusaha kuliner seperti dirinya bukan sekedar soal belajar / kursus lalu dipraktekkan tapi masalah perasaan seorang seniman kuliner dan naluri. Sebab sangatlah berbahaya jika kesuksesan sebuah usaha makanan tanpa ruh jiwa si senimannya. Hanya tinggal menghitung waktu saja akan gulung tikar. Yang paling penting menurut Puspo, adalah ilmu dan bakat sang pengusahanya. Itulah yang membuat pengusahanya betul- betul bisa menghayati dan menjiwai usahanya.

“Sebab dunia kuliner itu sangatlah kompleks dan sangat dalam,” tukasnya. Sebagai misal, Puspo mengibaratkan, seorang yang sangat berbakat dibidang arsitek memaksakan dirinya menjadi pengusaha restoran pasti tak maksimalkan hasilnya.

“Begitu juga saya jika menjadi Developer perumahan, pasti saya tak bisa menikmatinya,” bebernya. Itulah sebabnya, Puspo mewanti- wanti, menjadi pengusaha sesuai dengan bakatnya msing- masing. Menurutnya hal ini sejalan dengan ajaran Islam. Sebagaimana dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya Allah mencintai seseorang di antara kamu apabila mengerjakan suatu pekerjaan ditekuninya ( sungguh-sungguh mengerjakannya ), (HR. Ahmad).

Puspo tentu tak salah. Sejumlah pengusaha sukses lainnya yang bahkan telah melegenda seperti dirinya, besar karena memiliki bakat di bidangnya masing- masing.Bakat yang ditekuni dan dicintai itulah pintu masuk menuju sukses.

Rasulullah SAW bersabda: Apabila dibukakan bagi seseorang pintu rezeki, hendaklah dia melestarikannya. ( HR Baihaqi )

Dari hadits di atas kita mendapatkan pengertian yang jelas bahwa seseorang telah memiliki bakat tersendiri. Jika sesorang mau berkembang dengan baik dalam melaksanakan pekerjaannya atau menuntut pengetahuan, hendaklah ia benar- benar memahami apa yang menjadi bakat dirinya. Menekuninya serta tidak berpindah-pindah pekerjaan/bisnis tapi berkonsentrasi pada bidang yang sesuai bakatnya.

“Bukan karena ikut seminar empat hingga lima kali lalu berani buka usaha kuliner,” tandas Puspo. Belum lagi, sejumlah pengusaha frenchese yang telah mengambil usahanya dengan cara kudeta, lalu membuka usaha serupa. Hasilnya, kata Puspo tak bedanya dengan menjual foto lukisan orang lain.

Ia berargumen, lukisan asli tentu masih ada roh sang pelukisnya disbanding dengan hanya sebuah foto. Begitu juga dengan usaha kuliner yang hanya merupakan hasil nyontek dari pengusaha aslinya. “sama sekali tidak ada roh pemiliknya”, tegasnya. Itulah yang membuat banyak usaha kuliner yang booming sesaat lalu menghilang alias bangkrut.

Pria kelahiran Solo tahun 1957 ini mengaku benar- benar menghayati usahanya.Ia bahkan masih terjun langsung ikut masak di dapur bersama karyawan manakala ada pembukaan cabang baru. “itu tadi karena saya menghayati dan menjiwai usaha ini,”ujarnya. Penghayatan yang dalam seperti itu, membuat roh sang pemilik Wong Solo (Puspo) selalu melekat disetiap outletnya.

Padahal, tanpa kehadirannya Wong Solo sudah bisa jalan sendiri. Puspo pun tinggal menikmati hasilnya saat ini. Tetapi lagi- lagi, ia bukanlah seperti pengusaha baru yang lagi booming, lalu meninggalkan usahanya. “Karena saya lihat banyak pengusaha yang meninggalkan usahanya hanya untuk menjadi pembicara wirausaha dimana- mana sehingga jadi alih profesi”, katanya. Seolah- olah kata Puspo, menjadi pembicara akan menaikkan branded atau popularitas. Bukan tidak boleh, sebaiknya pekerjaan yang tidak utama sebagai refreshing dan nampang saja.

Kalau usaha yang primer di abaikan seperti itu, usahanya hanya tinggal menunggu waktu saja akan mati dengan sendirinya. “Ingat, menjadi pengusaha kuliner itu harus benar- benar serius menekuni bidang usahanya dan terjun langsung,”ujarnya sambil mengutip hadits. Rasulullah SAW bersabda : “jika sesuatu perkara atau pekerjaan diserahkan atau ditangani oleh orang yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya”. (HR. Bukhari dari Abu Hurairah). Itulah yang membuat usaha Wong Solo Grup bertahan lintas generasi.

Selain itu ada rahasia khusus kesuksesan Wong Solo Grup sehingga bisa berkembang seperti sekarang? Sambil mengutip Al Qur’an surat Al Mu’minun ayat 1-6 yang intinya orang mu’min yang beruntung adalah (1) Khusuk dalam sholatnya, timbul jiwa kesalehan sosialnya (2) Meninggalkan pekerjaan sia- sia (bekerja keras) dijamin dapat harta, agar harta berkah halal dan berlipat ganda (3) membayar zakat, sisihkan sebagian hartanya 10-30% untuk fisabilillah, Insyaalloh dijamin kaya harta kaya hati (4) Jagalah kemaluanmu (orang kaya harta dijamin sulit menjaga kemaluannya) (5) Kecuali terhadap istri- istrinya (bukan selingkuhannya, artinya lewat pernikahan).

Shafiyyatul Ghina, Putri Wong Solo, Berani Buka Usaha Sendiri

Tak banyak anak pengusaha yang mampu membuka usaha sendiri. Umumnya hanyalah melanjutkan tongkat estafet kejayaan bisnis ayahnya. Tidak demikian dengan Shafiyyatul Ghina, putri tokoh kuliner Wong Solo, Puspo Wardoyo. Ia bahkan mampu mengguritakan jejaring Ayam KQ-5 miliknya dalam waktu kurang dari setahun..

Menjadi putra mahkota dari sebuah kerajaan bisnis sangatlah biasa. Sang pengusaha yang bisa dibilang bisnisnya telah melegenda, pada saatnya juga akan menyerahkan kursi emasnya kepada sang anak. Tak seperti Sang ayah yang memulai usaha dari nol dengan pendidikan seadanya, para penerus tahta itu dipersiapkan dengan menyekolahkannya setinggi langit hingga ke manca negara.

Namun kisah yang berbeda datang Shafiyyatul Ghina. Sebagai putri pemilik raksasa kuliner Wong Solo Grup, ia justru kurang tertantang untuk meneruskan tahta bisnis Sang Ayah. Mahasiswi semester akhir Institut Pertanian Bogor (IPB) ini, lebih senang membuat usaha sendiri ketimbang melanjutkan bisnis Wong Solo yang kejayaannya sudah merambah negara tetangga itu.

Perpaduan antara ilmu yang dikecapnya di perguruan tinggi dengan darah bisnis yang diturunkan Sang ayah, membulatkan tekad Ghina untuk mendirikan usaha kedai ayam bakar berlabel Ayam KQ-5 di kota Medan setahun silam. Meski masih serupa dengan bidang usaha yang digeluti Wong Solo, Ayam KQ-5 memiliki bidikan yang berbeda.

Dengan branding kaki lima, sebut Ghina, tak pandang buluh, semua kalangan bisa makan di kedainya. Baik yang naik motor atau mobil, mahasiswa, karyawan hingga masyarakat umum. “Mareka gak bakal segan untuk masuk, menikmati menu ayam yang enak,” imbuh putri Puspo Wardoyo ini tentang posisioning usahanya.

Konsep yang Ghina bilang simpel itu, diperkuat lagi dengan pilihan menu yang semuanya sudah tersedia dalam bentuk paket. “Biasanya orang lebih senang kalau sudah lihat dalam bentuk paket, sebab akan lebih hemat,” beber dara cantik berusia 22 tahun ini. Pengalaman Ghina saat mahasiswa merupakan cikal bakal dari ide paket ini.

“Kalau di restoran kan orang sudah takut duluan, sebab selain harganya mahal memesan menu satu per satu hanya akan membuat ribet dan harganya mahal,” Ia membandingkan keunggulan konsep kaki lima dengan restoran. Walau, secara umum baik dari sisi lokasi, desain interior dan eksterior Ayam KQ-5 tak jauh beda dengan berbagai restoran ternama di tanah air.

Selain paket menu ayam bakar, Ghina juga menyuguhkan menu paket bebek, lele dan ayam penyet. Harganya berkisar dari Rp 16 ribu hingga Rp 20 ribu per paket. Disamping juga, ada tumis cah kangkung dan mie goreng. Tidaklah heran, kedai ayam bakar yang berkasitas 150 orang itu selalu disesaki pengunjungnya hari demi hari.

Prospek bisnisnya demikian cerah. Anak seorang Puspo akhirnya mampu menunjukkan dirinya. Ia tak hanya jenius seperti ayahnya dalam meramu citarasa, tetapi juga kemampuannya melihat peluang semakin tajam. Kemampuan manajerial diperolehnya di bangku kuliah menambahkan kematangannya menjadi pengusaha. Kreativitas segarnya mulai mempesona pasar ayam bakar tanah air.

Belum genap setahun gerai pertamanya dibuka di kota Medan, Ghina mengguritakan usahanya menjadi 4 gerai, yang masing-masing berlokasi di berbagai kota. Seperti di kota Banjarmasin, Jakarta dan Solo. “Kami juga membuka kesempatan franchise,” tambahnya. Investasi franchise untuk Ayam KQ-5, kata Ghina, sebesar Rp 500 juta.

Angka tersebut cukup masuk akal, kata Ghina, sebab sebuah kedai ayam bakar akan dibangun mulai dari tanah kosong hingga menjadi bangunan yang layak. Selain itu, peralatan yang diberikan juga sangat mumpuni, terutama untuk peralatan dapur. Kesempatan franchise terbuka di seluruh kota tanah air.

“Saya berencana akan mengepung semua mal terkenal Se-jabodetabek.” Target Ghina dalam waktu dekat untuk ekspansi KQ-5 di Jakarta dan sekitarnya. Ia mengambil lokasi di mal untuk Jakarta lantaran di kota semacet Jakarta orang lebih suka bermain ke mal sambil berburu kuliner, ketimbang hanya ke sebuah restoran untuk makan.

Tiga Strategi Brilian Wong Solo Menjadi Tuan di Negeri Jiran

Nabi tak pernah dikenali di negeri sendiri. Itulah kias, yang menggambarkan bahwa seringkali orang atau produk berkualitas tinggi tidak dikenali oleh lingkungan terdekatnya. Justru di lingkungan lainlah produk ini direspon secara positif dan diakui keunggulannya.

Bagi Puspo Wardoyo maupun Wong Solo Group, kias tersebut tak semuanya benar. Di Medan, tempat lahirnya RM Ayam Bakar Wong Solo, konsumen masih menempatkan Wong Solo menjadi salah satu rumah makan buruan papan atas, bukan seperti para nabi yang dimusuhi dan diusir kaumnya sendiri.

Tetapi di lain tempat pun, Wong Solo mendapatkan respon antusias, bahkan untuk ukuran kota- kota selevel kabupaten. Di kota semisal Purwokerto, Mojokerto, Balikpapan, Tarakan dan sejumlah kota lainnya di Indonesia , Wong Solo Group tercatat membukukan kinerja sangat bagus.

“Meski yakin, kami sempat was-was apakah di kota kota kecil seperti Purwokerto dan Mojokerto, Wong Solo Group bisa membukukan kinerja bagus. Tapi kenyatannya berbicara seperti keyakinan kami,” ujar Puspo sambil menunjukkan short message service (SMS) laporan omset penjualan rumah makan Wong Solo Group di Mojokerto, yang membukukan kinerja luar biasa untuk ukuran kota kabupaten.

Dan, kinerja itu, bukan hanya dibukukan untuk gerainya yang ada di Mojokerto saja, melainkan untuk kota-kota lainnya juga. “Saya tipe orang yang tidak senang menjanjikan BEP dalam sekian bulan, seperti yang dijanjikan oleh para franchisor di sejumlah pameran. Tetapi berdasarkan kenyataan yang ada di lapangan, para franchisee sudah memperoleh BEP sekitar enam bulan setelah beroperasi. Contohnya rumah makan istri saya yang ada di Balikpapan dan Tarakan,” ungkap Puspo sambil melirik istrinya, Anita, yang duduk di sebelah kirinya.

Anita, salah satu istri Puspo, adalah franchisee Iga Bakar Wong Solo di Balikpapan, Tarakan dan Malang. Di Balikpapan dan Tarakan, rumah makan milik Anita mencatat BEP dalam kurun waktu enam bulan. “Meski punya istri saya namun hak dan kewajibannya seperti franchisee lain, tidak diistimewakan. Ya bayar royalty fee, ya bayar franchise fee. Tapi sebagai suami saya tetap berkewajiban memberi nafkah,” ujarnya sembari tertawa.

Yang mungkin luput dari pengetahuan orang selama ini adalah: ternyata Puspo diam-diam juga melakukan ekspansi bisnis ke negeri tetangga, Malaysia dan Singapura, selain berekspansi di sejumlah kota di seluruh Indonesia.

Trendsetter Kuliner Indonesia di Malaysia

Eforia waralaba di Indonesia menyisakan beberapa kegetiran. Banyak perusahaan—yang sebenarnya belum siap diwaralabakan—ikut-ikutan terjun menjadi perusahaan berskema waralaba. Akibatnya, banyak perusahaan waralaba yang berguguran di tengah jalan. Kondisi ini diperparah dengan masuknya sejumlah waralaba asing, ke Indonesia.

Bahkan yang tadinya hanya beroperasi di sejumlah mal dan jalan-jalan besar utama masuk ke ruas-ruas jalan kecil. Maraknya waralaba “asal-asalan” dan waralaba asing memicu terjadinya kenaikan biaya bahan baku dan biaya sewa tempat yang Puspo deskripsikan “tidak masuk akal.”

Bertambahnya beban cost, tanpa diiringi naiknya harga jual membuat suasana bisnis waralaba—utamanya makanan—seperti berenang di lautan merah (red ocean). Marjin tergerus terus menerus, bahkan banyak yang merugi. Sementara untuk perusahaan waralaba yang bermodal cekak dan belum teruji produknya, terpaksa gulung tikar sebelum sempat berkembang.

Puspo sendiri mengaku laba Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo di Jakarta—yang segmennya—menengah ke atas sedikit tergerus dengan adanya kondisi tersebut. Tapi kondisi ini justru dijadikan pemantik pria asal Kleco Solo ini untuk berinovasi, yakni membidik peluang di luar kota Jakarta yang selama ini menyimpan potensi besar namun belum tergarap. Kota-kota di Jawa, di luar Jakarta, dan kota-kota di Kalimantan. Bahkan kota-kota di luar negeri seperti Singapura dan Kuala Lumpur.

Beruntung Puspo sudah memiliki modal besar, terutama sekali yang berujud intangible asset: nama besar RM Ayam Bakar Wong Solo. Sewaktu membuka gerai pertama di Ampang, Selangor Dahrul Ehsan, Malaysia, RM Ayam Bakar Wong Solo diresmikan oleh Timbalan Menteri Pelancongan Malaysia Yang Berhormat (YB) Dato Ahmad Zahid Hamidi, yang sekarang ini menjadi Menteri Pertahanan Malaysia.

“Padahal secara pribadi saya tidak mengenal beliau. Namun karena nama Wong Solo sudah dikenal, beliau berkenan meresmikannya,” ungkap Puspo blak-blakan. Pembukaan gerai pertama di Negeri Jiran ini juga diliput oleh sejumlah media massa di sana.

Senyampang, setelah RM Wong Solo di Ampang, Puspo menambah gerai di Kampung Baru, Selangor, Malaysia. Di Kampung Baru ini pun Wong Solo mendapatkan respon luar biasa. Bahkan ada kejadian unik di Wong Solo Cabang Kampung Baru, di mana seorang pangeran Arab Saudi melakukan “block time.” Artinya, Wong Solo dilarang menerima tamu lain dalam sehari semalam, karena pangeran Saudi tersebut ingin bersantap di RM Wong Solo Kampung Baru.

Karena “block time,” Pangeran Saudi ini rela merogoh kocek untuk menggantikan pendapatan RM Wong Solo dalam sehari semalam. “Kemungkinan hal ini dilakukan demi keamanan dan privasi. Pangeran tersebut ingin sekali menikmati menu-menu andalan Wong Solo, terutama Jus Poligami,” ujar Puspo.

Melakukan penetrasi mulus ke negeri tetangga tentu saja mensyaratkan adanya beberapa strategi jitu. Meski secara kultural Malaysia dekat dengan Indonesia, namun secara peraturan jauh berbeda. Untuk itu, yang pertama-tama dilakukan oleh Puspo adalah menggandeng mitra yang tepat.

Duta Kuliner di Malaysia

Sepanjang sejarah, hubungan Indonesia-Malaysia nyaris menyerupai karet, mendekat-menjauh, merapat-merenggang. Namun, keberadaan RM Wong Solo di Malaysia nyaris mulus. Tak pernah pengunjung berkurang lantaran hubungan Indonesia-Malaysia merenggang. “Prinsip hubungan itu adalah ‘karena tak kenal maka tak sayang.’ Cara mengenal itu bisa melalui berbagai media, seperti olah raga, kunjungan atau silaturahmi. Namun yang tidak boleh dilupakan adalah mengenal nilai-nilai kultur tertentu sehingga kedua bangsa bisa saling menyelami nilai-nilai masing-masing kultur. Dengan mengetahui nilai-nilai masing-masing tersebut tumbuhlah sikap saling menghormati. Langsung atau tidak langsung kehadiran Wong Solo bisa memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap Indonesia, terutama keramahtamahan para karyawannya (100% karyawan Wong Solo berasal dari Indonesia). Dan kami mencantumkan dengan jelas-jelas di tagline Wong Solo: Indonesia Cuisine,” tegas Puspo. Warga negara Malaysia sendiri memang lebih tertarik untuk bekerja di kantoran, dan tidak tertarik dengan sektor kerja yang lebih “berkeringat” seperti di sektor konstruksi dan pelayan rumah makan. Itu sebabnya 100 % karyawan RM Wong Solo berasal dari Indonesia. “Kami menganut sistem full service, sehingga keramahan pelayanan merupakan salah satu keunggulan,” ujar Puspo. Selain bisa mengenalkan “keramahtamahan” orang Indonesia, secara menu RM Wong Solo juga memperkenalkan ke masyarakat Malaysia menu-menu tradisional Indonesia. “Malaysia yang semula tidak mengenal ayam penyet, pecel lele, sambel dadakan dan makanan tradisional Indonesia lainnya kini menjadi lebih mengenal. Kadang kesepahaman itu tidak perlu melalui cara yang rumit. Melalui makanan pun kadang orang bisa saling mengenali dan menghormati,” kelakar Puspo. Sekali pun Indonesia-Malaysia secara geografis dan kultural dekat, namun kedua negara jelas berbeda, terutama sekali soal peraturan-peraturannya. Oleh karena itu Puspo secara garis besar menerapkan tiga strategi sehingga dengan mulus bisa membangun RM Solo “Menjadi Tuan di Negeri Jiran.”